SELAMAT DATANG DI:http://ahmadsyahbio.tk atau ahmadsyahbio.blogspot.com Sebagai kumpulan bacaan di ambil dari berbagai sumber untuk menambah pengetahuan kita semoga bermanfaat silahkan tinggalkan komentar anda...terimakasih.

Senin, 01 Maret 2010

Tuntutan penemuan


abstraks: 
Tuntutan penemuan obat baru semakin meningkat karena makin bervariasinya jenis penyakit. Banyaknya kuman yang sudah kebal terhadap obat – obat tertentu dan ditemukannya berbagai efek samping akibat pemakaian obat yang sudah dikenal, mendorong penelitian lebih lanjut untuk mengembangkan struktur obat yang telah ada atau mencari dan menemukan obat baru (Block, 1991). Penemuan obat baru dari senyawa produk alam pada umumnya dilakukan dengan penapisan bahan alam, ekstraksi, isolasi dan pemurnian senyawa yang terkandung, menemukan strukturkimianya, kemudian dilakukan pengujian dengan sistem uji biologis yang sesuai sehingga didapatkan senyawa penuntun.
Senyawa penuntun adalah senyawa yang dapat menimbulkan aktivitas biologis, seperti aksi terapetik, aksi toksik, regulasi fisiologik, hormon dan feromon, serta senyawa yang terlibat atau berpengaruh terhadap proses biokimia dan patologi pada hewan atau tumbuh – tumbuhan (Siswandono dan Soekardjo, 1998). Senyawa penuntun tersebut dikembangkan lebih lanjut, melalui modifikasi molekul sehingga didapatkan turunan senyawa dengan aktivitas yang diinginkan
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Tuntutan penemuan obat baru semakin meningkat karena makin bervariasinya jenis penyakit. Banyaknya kuman yang sudah kebal terhadap obat – obat tertentu dan ditemukannya berbagai efek samping akibat pemakaian obat yang sudah dikenal, mendorong penelitian lebih lanjut untuk mengembangkan struktur obat yang telah ada atau mencari dan menemukan obat baru (Block, 1991). Penemuan obat baru dari senyawa produk alam pada umumnya dilakukan dengan penapisan bahan alam, ekstraksi, isolasi dan pemurnian senyawa yang terkandung, menemukan strukturkimianya, kemudian dilakukan pengujian dengan sistem uji biologis yang sesuai sehingga didapatkan senyawa penuntun.
Senyawa penuntun adalah senyawa yang dapat menimbulkan aktivitas biologis, seperti aksi terapetik, aksi toksik, regulasi fisiologik, hormon dan feromon, serta senyawa yang terlibat atau berpengaruh terhadap proses biokimia dan patologi pada hewan atau tumbuh – tumbuhan (Siswandono dan Soekardjo, 1998). Senyawa penuntun tersebut dikembangkan lebih lanjut, melalui modifikasi molekul sehingga didapatkan turunan senyawa dengan aktivitas yang diinginkan
Suatu senyawa akan menunjukkan aktivitas farmakologis bila didalam senyawa tersebut terdapat reseptor, yang disebut farmakofor. Modifikasi pada farmakofor maka dapat dirancang aktivitas farmakologis suatu senyawa (Davies dan Briant, 1995). Salah satu strategi untuk modifikasi farmakofor adalah dengan melakukan reaksi – reaksi seperti hidrogenasi, hidroksilasi, metilasi dan asetilasi.
Kuersetin adalah senyawa flavonoid dan lebih khusus disebut flavonol. Kuersetin dapat ditemukan dalam makanan yang sering di konsumsi seperti buah jeruk, bawang merah (paling tinggi), sayuran hijau (bayam), dan beberapa buah-buahan lain. Kuersetin telah menunjukkan aktivitas sebagai anti inflamasi, anti oksidan kuat, memperpanjang aksi vitamin C, anti tumor, kanker, penyakit hati, katarak dan penyakit pernapasan (www. pdrhealth. Com).
Dilihat dari banyaknya aktivitas kuersetin, maka kuersetin dapat dipilih sebagai senyawa penuntun dari bahan alam. Senyawa penuntun selanjutnya perlu dimodifikasi molekulnya dengan tujuan untuk mendapatkan senyawa yang lebih poten, spesifik, aman, dan efek samping minimal (Siswandono dan Soekardjo, 1998).
Penelitian ini melakukan asetilasi terhadap kuersetin dengan menggunakan asam asetat anhidrat dalam pelarut asam perklorat dan pelarut piridin. Identifikasi senyawa hasil sintesis dilakukan dengan menentukan titik lebur, harga Rf dengan kromatografi lapis tipis, spektrofotometer inframerah dan resonansi magnet inti.
B. Konteks Permasalahan
Berdasarkan uraian latar belakang di atas timbul masalah yaitu, pertama, apakah dapat dilakukan asetilasi terhadap gugus hidroksil kuersetin dengan senyawa pengasetilasi asam asetat anhidrat dalam pelarut asam perklorat dan pelarut piridin. Kedua, apakah dapat terjadi perubahanstruktur kimia kuersetin.
C. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan, pertama, untuk mengetahui keberhasilan asetilasi kuersetin menggunakan asam asetat anhidrat dalam pelarut asam perklorat dan pelarut piridin untuk mendapatkan turunannya. Kedua, untuk mengetahui struktur senyawa hasil sintesis.
D. Kegunaan Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan, dapat sebagai masukan, pengembangan dan pemanfaatan asetilasi kuersetin menggunakan asam asetat anhidrat dalam pelarut piridin untuk mendapatkan turunan kuersetin.

0 komentar:

Poskan Komentar

RUANG RIUNG

MAU PASANG BANNER SILAHKAN: Kotak yang atas untuk gambar misal : http://images.cooltext.com/1478198.png Kotak Bawah untuk alamat blog misal: http://ahmadsyahbio.blogspot.com












>



KLIK TOMBOL ATAS
Related Posts with Thumbnails